music

Sick of It All
Sick of It All on their 20th Anniversary Tour @ Revolution In Fort Lauderdale, FL

Sick of It All on their 20th Anniversary Tour @ Revolution In Fort Lauderdale, FL
Background information
Origin Queens, New York, USA
Genre(s) Hardcore punk
Years active 1984–present
Label(s) Revelation Records (1987–1988)
Relativity Records (1988–1993)
EastWest Records (1993–1996)
Elektra Records (1996–1998)
Fat Wreck Chords (1998–2005)
Abacus Records (2005–2007)
Century Media Records (2007–present)
Associated
acts
Creep Division (Craig’s side project)
Blood From The Soul (Lou’s side project)
Website sickofitall.com
Members
Lou Koller
Pete Koller
Craig Setari
Armand Majidi
Former members
Rich Capriano
Max Capshaw

——————————————————————–

Penampilan luar biasa grup band asal Detroit Michigan Amerika, Walls of Jericho (WoJ), dalam konser yang bertajuk Redemption South East Asia (SEA) Tour 2008 di UMM Dome, Jumat (13/6) malam lalu, membuat ribuan publik underground Malang Raya terpukau.

Meski dikomandoi vokalis perempuan, Candace Kucsulain, tetapi musik yang dibawakan oleh WoJ tak kalah gaharnya dengan band-band yang dipimpin vokalis laki-laki. Suara lantang dan agresif milik Candace yang ditunjang dengan aksi energiknya saat manggung mampu menghanyutkan ribuan penonton yang kebanyakan mengenakan kaus berwarna hitam itu.

Dalam konser pertamanya di Indonesia, WoJ membawakan 11 lagu cadas, termasuk single The American Dream yang sudah tidak asing di telinga kaum muda. Setelah single berjudul Plastic tuntas dibawakan, lima personil WoJ pun meninggalkan panggung. Tak ingin konser selesai, ribuan penonton pun berteriak memanggil mereka untuk kembali mengguncang Dome UMM.

“We want more! We want more! We want more!” teriak penonton yang menginginkan Candace dan kawan-kawan kembali tampil di panggung. Selang lima menit kemudian, personel WoJ pun kembali tampil di panggung. Dan yang lebih mengejutkan, vokalis yang menjadi salah satu icon hardcore itu mengenakan slayer Arema.

Style ini membuat seluruh penonton memberikan aplause untuknya. Setelah itu mereka melanjutkan konser dengan tiga lagu, All Hail The Death, A Trigger Full Promises dan Revival Never Goes Out Of Style yang membuat penonton semakin puas. Usai penampilannya, basis WoJ, Aroon Ruby mengaku ia sangat senang bisa tampil di Indonesia. Apalagi ternyata penggemar mereka cukup kooperatif selama konser berlangsung. “Indonesia is very good. We like Indonesia,” ujarnya pada Malang Post setelah turun panggung.

Setelah penampilannya di Malang, WoJ melanjutkan rangkaian konsernya di Jakarta Sabtu (14/6) malam kemarin dan di Singapura, Minggu (15/6) malam.

Sementara itu sebelum WoJ manggung, konser Redemption SEA Tour 2008 ini dibuka dengan penampilan dua band hardcore asal Kota Malang, Primitive Chimpanzee dan Screaming Factor. Primitive Chimpanzee membawakan enam lagu. Sedangkan Screaming Factor membawakan lima lagu.

———————————————————————-

KRONOLOGIS TRAGEDI KONSER BESIDE

DI AACC BANDUNG (dari Eben Burger Kill)

Untuk meluruskan khabar2 yang tidak
enak dan cenderung memojokkan scene,
berikut cerita dari Eben

Bandung, 9 Februari 2008
Cerita pendek Tragedi Berdarah konser
musik Beside.

Tepat jam 19.00 wib saya tiba di gedung AACC di jalan Braga Bandung,tempat dimana launching album perdana band metal asal kota kembang Beside digelar.
Suasana diluar gedung sangat ramai dipenuhi teman-teman dari komunitas yang berkumpul untuk menyaksikan konser tunggal dari band yang baru saja meluncurkan album bertitel “Against Ourselves” ini. Di depan gerbang gedung yang berkapasitas 500 orang ini saya melihat ratusan metalhead yang terus mengantri berusaha masuk kedalam gedung, terlihat juga beberapa orang aparat keamanan yang sedang bersantai duduk diatas motor yang diparkir di depan gedung.

 

Tidak lama kemudian dari luar terdengar Beside sudah mulai menggeber lagu pertama dari set list konser mereka malam ini, tanpa banyak menunggu saya langsung masuk melalui pintu samping gedung yang dikhususkan untuk para undangan dan teman-teman media.

Dari pinggir panggung saya melihat hampir 800 metalhead memadati crowd yang intens berpogo ria diiringi penampilan Beside yang powerfull, setelah saya perhatikan nampaknya pihak panitia telah menjual jumlah tiket yang melebihi kapasitas gedung. Sempat beberapa kali saya melihat beberapa penonton yang mabuk dan pingsan dehidrasi dikarenakan kurangnya sirkulasi udara segar didalam gedung, tapi sangat disayangkan pihak panitia tidak sigap menyediakan bantuan yang maksimal seperti PMI atau tim khusus untuk menangani kejadian seperti ini, sehingga beberapa penonton yang pingsan hanya dibiarkan tergeletak di lorong samping panggung tanpa pertolongan yang benar.

Memang udara didalam gedung sangat panas dan pengap hingga dipertengahan konser saya berjalan keluar melalui jalan samping untuk membeli minuman dingin. Dari depan pintu samping saya melihat kerumunan penonton tanpa tiket yang beramai-ramai berusaha merubuhkan gerbang utama gedung AACC ini, namun sayangnya para aparat yang berada di sekitar gerbang tidak melakukan tindakan antisipasi dan hanya berdiri merokok menyaksikan kejadian tersebut.

Sempat saya mengingatkan salah seorang aparat untuk segera bertindak tapi hanya sebuah jawaban sederhana yang saya terima, “Udah biarin aja ada panitia yang jaga, kamu ga usah ikut-ikutan” tuturnya.

Aneh mendengarnya,seharusnya mereka lebih sigap dan segera mengamankan kejadian tersebut. Merasa tidak digubris saya kembali masuk kedalam gedung dan memberi tahu kondisi diluar gedung ke pihak panitia yang berjaga didalam, akhirnya beberapa panitia berlarian keluar untuk ikut membantu.

Setelah pemutaran video klip “Holyman” melalui big screen di kanan kiri panggung para personil Beside terlihat membagikan beberapa gelas bir kepada penonton yang berada di barisan depan panggung, tentunya suguhan ini dengan gembira ditanggapi oleh para penonton yang memang kehausan setelah terus berpogo.

Tak berselang lama Beside kembali bersiap dan melanjutkan konser mereka. Sekitar jam 20.30 konser yang berjalan lancar ini berakhir, kerumunan penonton yang mengantri untuk keluar pun terlihat aman dan tertib. Didalam gedung terdapat beberapa penonton yang kelelahan dan beristirahat sambil menunggu antrian yang cukup panjang. Dan tragedi buruk ini pun dimulai, tidak lama kemudian saya mendapat kabar bahwa diluar ada dua orang penonton yang meninggal karena kehabisan nafas.

Tiba-tiba seorang aparat tanpa seragam naik ke atas panggung dan langsung berteriak-teriak menyuruh semua penonton yang ada didalam gedung untuk segera keluar. Tanpa basa-basi pun beberapa polisi lainnya ikut masuk kedalam dan dengan kasar mengusir semua penonton yang tersisa. Kembali saya coba mengingatkan para aparat untuk tidak bertindak kasar dan menerangkan bahwa diluar antrian penonton masih panjang. Namun sekali lagi omongan saya tidak digubris dan mereka terus bertindak seenaknya mendorong dan menendang para penonton, dan akhirnya suasana antrian menjadi tidak terkendali.

Beberapa penonton dibagian belakang terus mendorong kedepan karena takut terkena pukulan para aparat yang terus memaksa keluar, sangat jelas terlihat bertambahnya korban yang pingsan karena terinjak-injak antrian yang terus menumpuk. Dalam kondisi panik saya berusaha membantu seorang penonton yang tergeletak pingsan didepan gedung dan membopongnya untuk dibawa kedalam mobil salah satu panitia. Tiba-tiba salah seorang teman saya yang juga ikut membantu korban dipukul wajahnya oleh seorang oknum aparat tanpa alasan yang jelas, dengan sigap saya berusaha melerai mereka. Dan sekali lagi sikap angkuh dan sok jagoan dari seorang oknum aparat pun dipertontonkan, dengan sikap yang kampungan hampir 20 orang aparat langsung menyerang saya dan mengeroyok membabi buta seperti segerombolan preman yang haus berkelahi.

Akhirnya suasana kembali tidak terkendali dan kerusuhan pun terjadi,beberapa teman yang ikut melawan dan melindungi saya pun ikut terkena pukulan dan tendangan dari oknum-oknum aparat yang terus bertambah sehingga kami semua berpencaran berlari jauh untuk menghindar. Dari kejauhan saya melihat beberapa korban yang pingsan didepan gedung diusir dengan kasar oleh beberapa aparat, dan mereka pun langsung memasang Police Line agar tidak ada lagi penonton yang masuk kedalam gedung. Tak lama kemudian saya mendapat kabar bahwa beberapa teman saya dibawa ke Polwiltabes Bandung sebagai saksi untuk dimintai keterangan perihal kejadian tersebut, dan saya pun langsung menuju kesana untuk mencari tahu kepastian beritanya.

Sesampai di kantor polisi saya melihat beberapa panitia yang berkumpul sambil menunggu giliran untuk di interogasi. Saya mencoba menghampiri dan bertanya kepada mereka tentang berita terakhir korban tragedi tersebut dan ternyata jumlah korban yang meninggal sudah mencapai 10 orang yang tersebar di 2 Rumah Sakit. Beberapa korban yang tidak tertolong meninggal di RS Bungsu dan RS Hasan Sadikin Bandung, dan menurut panitia yang ikut mengantar ke rumah sakit bercerita setibanya di rumah sakit hampir sebagian besar korban tidak dilayani dan hanya dibiarkan saja oleh pihak rumah sakit hingga akhirnya mereka meninggal dunia. Mungkin hal ini terjadi dikarenakan pihak rumah sakit takut akan tidak selesainya urusan admistrasi dari masing-masing korban.

Sungguh kondisi yang sangat mengecewakan dan menyesakan dada, namun apa daya semuanya sudah terlewati dan kami sudah tidak bisa membantu lebih banyak lagi.

Dunia musik Indonesia kembali berduka, sebuah konser musik yang menelan korban jiwa kembali terjadi. Lalu siapa yang bisa disalahkan? Apakah buruknya persiapan antisipasi panitia yang nakal dengan menjual tiket diluar kapasitas gedung? Apakah juga bobroknya sikap aparat sebagai pihak yang seharusnya mengatur keamanan di lokasi konser? Atau terlalu banyaknya teman-teman kita yang terlalu mabuk ketika menonton konser? Lalu bagaimana dengan parahnya pelayanan di rumah sakit yang terkesan acuh untuk menangani korban? Saya rasa semua itu bisa menjadi penyebabnya, dan kita hanya bisa menyesalinya.

Tentunya setelah tragedi ini rasa pesimis teman-teman di komunitas akan sulitnya izin untuk bisa menyelenggarakan konser-konser akan semakin bertambah.

Dengan adanya tulisan pendek ini mudah-mudahan berita miring di media yang terkesan memojokan teman-teman komunitas atas tragedi ini dapat sedikit diluruskan, dan kejadian ini dapat dijadikan contoh kasus yang perlu diteladani dan disikapi dengan benar oleh semua pihak yang berkaitan dengan pelaksanaan sebuah konser musik.

Tulisan ini hanya sebuah pandangan dan opini seorang musisi,teman, dan penikmat musik yang sangat mengharapkan suasana yang kondusif dari sebuah konser. Dari lubuk hati yang paling dalam saya mewakili komunitas musik sejagad Indonesia turut merasakan prihatin dan belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas tragedi ini.

Semoga teman-teman kami yang telah pergi dapat beristirahat dengan tenang dan segala
kebaikannya diterima disisi Allah SWT,
Amien…

Live hard, die hard… Rest In Peace
Brothers, we’re gonna miss u…

 

 

 

U2 Album Banned in Burma

11.12.07 – Rolling Stone

It’s been a long time since Bono marched around stage waving a white flag, but the outspoken Irishman and the rest of his cohorts in U2 apparently still have a knack for buggin’ certain people, particularly when they mean to. The band’s new album, All That You Can’t Leave Behind, has been banned in Burma by the country’s ruling military dictatorship.

The reason? The song “Walk On,” which is dedicated in the album’s liner notes to Daw Aung San Sun Kyi, the leader of Burma’s pro-democracy movement who has been under virtual house arrest since 1989 along with other members of her National League for Democracy. The liner notes also list a Web and mailing address for the pro-democracy Burma Campaign. According to a BBC transcript of a Burmese opposition radio report, Burma’s SPDC (State Peace and Development Council) military intelligence office has barred the import of any magazine, journal or tape that so much as mentions Aung San Sun Kyi’s name. Doing so carries a fine of three to twenty years in prison.

U2 have devoted space on their newly launched Web site, http://www.U2.com, to the plight of democracy in Burma, crediting the nation’s military dictatorship — a “destructive tyranny” which has ruled since 1962 — with “one of the worst human rights records in the world.” Charges against the regime include the use of more child soldiers than any other country in the world, the forced labor of eight million men, women and children, an ethnic cleansing campaign against half a million Shan, Karen and Karenni people and the detainment of more than 1,500 political prisoners.

According to their Web site, U2 was scheduled to film a video for “Walk On” last week in Rio de Janeiro with Swedish director Jonas Akerlund, who shot their recent clip for “Beautiful Day.” “Walk On” will be the band’s next single in America. (A different single, “Stuck in a Moment You Can’t Get Out Of,” has been picked for the European market — with a video set to be filmed this week in Los Angeles).

U2 pockets five Grammy awards

Members of U2 (top, from L) The Edge and Adam Clayton along with (seated, from L) Larry Mullen Jr. and Bono pose with the five Grammy awards they won at the 48th annual Grammy Awards in Los Angeles February 8, 2006. Their awards included album of the year for ‘How to Dismantle an Atomic Bomb’ and song of the year for ‘Sometimes You Can’t Make It On Your Own’

U2 band members (from L) Larry Mullen Jr., The Edge, Bono and Adam Clayton pose backstage with their five awards at the 48th annual Grammy Awards in Los Angeles February 8, 2006.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: